Senin, 15 September 2014

Mengenal Politik yang Bermoral

alt

Setiyono*

Populasi umat muslim Indonesia begitu besar, bahkan duniapun mengakui. Namun sangat disayangkan ketika hari ini banyak pelaku politik yang cenderung mengedepankan ego dan sangat jauh dari konsepsi keislaman. Sehingga kondisi yang demikian menyebabkan negeri ini terus berada dalam lilitan masalah yang memiliki efek negatif bagi kehidupan masyarakatnya.

Banyak pelaku politik hanya sibuk memperkaya diri dan kelompoknya, sibuk meraih kekuasaan, tanpa mau memperhatikan bagaimana nasib hidup jutaan orang diluar sana dan bagaimana masa depan negaranya. Perebutan kursi kekuasaan seolah-olah menjadi agenda utama dari para pelaku politik negeri ini, padahal hal terpenting yang harus sama-sama dilakukan oleh para pelaku politik itu seharusnya adalah membuat sebuah konsepsi bagaimana membangun Indonesia yang lebih gemilang dimasa depan.

Potret laku politik yang demikian menyebabkan banyak kalangan yang alergi terhadap politik dan tak jarang yang mengatakan bahwa politik adalah sesuatu cara hidup yang kotor dan harus dijauhi. Walaupun tidak dinafikan, banyak masyarakat negeri ini yang menganggap bahwa para politikus dan orang-orang yang telah menempati jabatan politik merupakan orang yang seolah-olah berkasta “Brahma” dan begitu terhormat.

HAMKA, dalam setiap kesempatan dan karya-karyanya sering menegaskan bahwa seorang muslim harus memiliki konsistensi dalam menjalani kehidupannya. Konsistensi yang dimaksud disini adalah adanya keseimbangan antara pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang dengan perbuatan yang dilakukan oleh seseorang itu.

Pengetahuan berarti bahwa seorang muslim harus tahu siapa Tuhannya, apa perintah_Nya, perbuatan-perbuatan apa yang disukai_Nya dan mana yang tidak di sukai_Nya. Jika ia sudah tahu akan hal-hal tersebut, maka langkah yang harus dilakukan selanjutnya adalah ia harus menjadikan dirinya sebagai hamba Tuhannya, melaksanakan kehendak-kehendak_Nya dan mengabaikan sikap egois (hawa nafsu) dirinya sendiri.

Bila hatinya ingin melakukan suatu perbuatan, akan tetapi perbuatan itu bertentangan dengan perintah Tuhannya, maka ia harus melepaskan keinginan sendiri dan melaksanakan perintah Tuhannya.

Makna konsistensi yang di maksud oleh HAMKA tersebut, bila kita tarik kepada kondisi sistem kehidupan bernegara kita, yang hari ini cenderung dihadapkan dengan permasalahan serius seperti korupsi, kolusi dan nepotisme, maka menjadi sebuah kewajiban bagi seluruh umat negeri ini untuk melawan itu semua walau apapun yang terjadi.

Terlebih buat umat muslim yang hari ini memiliki jabatan politik di struktur pemerintahan, seperti Presiden, Kepala Daerah, legislatif, dan lain-lain. Karena politik akan memiliki efek positif manakala dijalankan oleh seseorang yang bermoral. Sedangkan diluar itu, maka politik hanya akan dipenuhi dengan intrik dan memberikan efek negatif bagi keberlangsungan sebuah negara.

Sebagaimana sejarah telah mencatat, bahwa salah satu faktor runtuhnya Daulah Umayyah dikarenakan rendahnya moralitas para pemerintahnya, bahkan saking rendahnya moralitas mereka, keluarga Rasulullah saw, dari bani Hasyim pun diperlakukan kurang adil dan bahkan sampai mengalami pengusiran. Hingga pada akhirnya laku politik yang demikian dari para pemerintah dalam Daulah Umayyah, menyebabkan keruntuhan. Dan lahirlah Daulah Abbasiyah yang dibangun oleh keturunan bani Hasyim yang pernah terzolimi dalam Daulah Umayyah.

Didalam Daulah Abbasiyah, yang pernah di pimpin oleh 37 pemimpin selama daulah ini berdiri hingga akhir, dimulai dari Abu Al-Abbas As-Saffah hingga Al-Mu’tashim. Kebanyakan dari para pemimpinnya dan juga orang-orang yang berada dalam struktur pemerintahannya cenderung menerapkan laku politik yang bermoral. Sehingga sejarah mencatat bahwa semasa daulah ini Islam mengalami kemajuan yang sangat luar biasa, baik dalam sisi perekonomian, institusi sosial, proyek-proyek sosial, ilmu pengetahuan, kemiliteran dan lain sebagainya.

Walaupun pada masa itu Daulah Abbasiyah juga mengadopsi sistem-sistem politik dari peradaban masyarakat kafir yang masih bisa ditoleransi oleh Islam dan mengelolanya menjadi sistem politik yang Islami sehingga menyebabkan kuatnya Daulah Abbasiyah itu hingga mampu memiliki usia sampai sekitaran 516 tahun, terhitung sejak tahun 750-1258 Masehi.

*Political Analist dan Aktivis KAMMI

Opini Lainnya