Sabtu, 20 September 2014

2014, Tarif Listrik Golongan I3 Naik 39%

  • PDF
alt

JAKARTA, PedomanNEWS - Pemerintah rencana akan mencabut subsidi listrik untuk golongan pelanggan I3 atau dengan daya listrik 197.001-13,32 MVA dan pelanggan I4 dengan daya tak terhingga, pada 2014.

Selain itu, pada 2014, pemerintah juga mulai menerapkan penyesuaian tarif otomatis (automatic tarif adjusment) terhadap golongan pelanggan rumah tangga besar (R3) dengan daya 6.600 VA ke atas, golongan pelanggan bisnis menengah (B-2) dengan daya 6.600 VA hingga 200 kVA, golongan pelanggan bisnis besar (B-3) dengan daya di atas 200 kVA, dan golongan pelanggan kantor pemerintah sedang (P-1) dengan daya 6.600 VA hingga 200 kVA.

Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Jarman mengatakan pencabutan subsidi dan pemberlakuan automatic tariff adjusment berdasarkan kesepakatan pemerintah dengan Badan Anggaran DPR terkait subsidi listrik 2014.

Disepakati besaran subsidi listrik 2014 mencapai Rp71 triliun dengan cadangan Rp10 triliun sehingga totalnya menjadi Rp81 triliun.

"Diperkirakan tarifnya naiknya 39 persen untuk I3. Subsidi total yang bisa kami saving dari kenaikan I3 dan I4 adalah Rp 8,9 triliun. Saving itu bisa dipakai untuk infrastruktur," kata Jarman di Jakarta, Kamis (31/10).

Jarman menuturkan, pemberlakuan pencabutan subsidi itu masih menunggu persetujuan Komisi VII DPR. Menteri ESDM Jero Wacik, katanya, sudah melayangkan surat kepada Komisi VII terkait kebijakan pencabutan subsidi golongan I3 dan I4 serta pemberlakuan automatic tarif adjusment.

"Kami sudah kirim surat ke komisi VII mau melaporkan. Pencabutan I3 dan I4 bulan apanya belum tahu, yang jelas tahun depan. Kalau semua berjalan lancar ya Januari (pencabutannya). Untuk penerapan automatic tariff adjusment tahun depan," katanya.

Dikatakannya automatic tariff bisa diberlakukan tahun depan lantaran pencabutan subsidi terhadap golongan R3,B-2,B-3, dan P-1 sudah diterapkan pada awal Oktober ini.

Tarif listrik bagi empat golongan pelanggan tersebut akan mengikuti indikator ekonomi makro, seperti harga minyak mentah Indonesia (Indonesia Crude Price/ICP), nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing, serta besaran inflasi.

"Itu yang kami terapkan automatic tariff nantinya seperti harga pertamax yang naik turun sesuai dengan harga kurs," tandasnya.

Sunandar

Berita Lainnya